JAMBI - Perekonomian Provinsi Jambi berdasarkan besaran produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2019 mencapai Rp 54.324 miliar dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 37.034 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi Dadang Hardiwan dalam rilisnya mengatakan, Ekonomi Provinsi Jambi triwulan II-2019 tumbuh 4,83 persen (y-o-y). Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha konstruksi yang tumbuh 9,96 persen. 

"Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi lembaga Non Profit yang melayani rumah tangga yang tumbuh sebesar 12,85 persen," tuturnya, Senin (5/8/2019).

Kemudian, lanjutnya, ekonomi Provinsi Jambi triwulan II-2019 tumbuh sebesar 2,19 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 8,91 persen. Sementara dari sisi pengeluaran dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi pemerintah yang meningkat signifikan sebesar 92,58 persen.

Sedangkan ekonomi Provinsi Jambi triwulan II-2019 (c-to-c) tumbuh 4,69 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi berasal dari perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 9,51 persen. "Dari sisi pengeuaran terutama didorong oleh komponen pengeluaran konsumen lembaga non profit yang melaya i rumah tnagga yang tumbuh sebesar 15,55 persen," sebut Dadang.

Dadang menyampaikan untuk struktur ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan II-2019 didominasi oleh pertanian, kehutanan, perikanan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB yakni sebesar 27,41 persen. "Sementara pada sisi pengeluaran, PDRB banyak digunakan untuk komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 44,00 persen," paparnya. 

Dan jika dilihat dari struktur perekonomian Sumatera secara spasial pada triwulan II-2019, kata Dadang, masih didominasi oleh Provinsi lumbung energi. Dimana tiga Provinsi dengan share terbesar adalah Provinsi Sumatera Utara sebessr 23,18 persen, Provinsi Riau dengan share sebesar 22,29 dan Sumatera Selatan sebesar 13,29 persen. "Untuk Provinsi Jambi bila dilihat dari distribusi terhadap PDRB Sumatera berada pada peringkat tujuh, yaitu sebesar 6,37 persen," sampainya.

Sementara itu, terkait Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Provinsi Jambi pada triwulan II-2019 sebesar 124,56. Artinya persepsi konsumen terhadap perekonomian triwulan II-2019 relatif baik dan lebih optimis dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. 

"Kondisi ini terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan masyarakat dengan nilai imdeks sebesar 129,83 dan pengaruh peningkatan konsumen seiring membaiknya perekonomian menyumbang nilai indeks sebesar 128,74. Sementara pengaruh inflasi menyumbang dengan indeks 111,34," 

Dijelaskan Dadang, gambaran persepsi masyarakat pada teiwulan II-2019 dapat dilihat pada kenaikan konsumen masyarakat menjelang Ramadhan dan hari raya idup fitri, demgan adanya peningkatan pendapatan pada pegawai swasta berupa pemberian THR dan pemberian gaji ke-14 kepada pegawai negeri. 

"Termasuk juga penyerapan anggaran belanja pegawai juga meningkat pada triwulan II-2019. Selanjutnya bertambahnya konsumsi masyarakat juga dipengaruhi oleh perbaikan harga karet dan CPO serta hajatan besar pemilu legislatif, dan pemilu presiden lalu," tuturnya. 

Persepsi konsumen terhadap perekonomian Provinsi Jambi para triwulan III-2019 diperkirakan menurun dibandingkan dengan triwulan II-2019 dengan nilai ITK sebesar 99,23. "Namun untuk tingkat pendapatan rumah tangga pada triwulan mendatang, Dadang memperkirakan masih tetap optimis namun tidak seoptimis pada triwulan II-2019. "Kondisi ini antara lain disebabkan oleh perkiraan perolehan pendapatan mendatang yang lebih sedikit. Disisi lain, perkiraan pembelian barang tahan lama pun hanya mencapai indeks 84,46." jelasnya.

Namun hal itu, kata Dadang masih berupa prediksi. Pihaknya belum bisa mengansumsikan seperti apa gambaran secara pasti hasil ekonomi di triwulan III-2019 nantinya. "Kita hanya mencatat saja. Barangkali dalam triwulan III-2019 nanti, selain pertanian bisa jadi dibantu dari sektor-sektor lain yang berperan apabila sektor pertanian mengalami penurunan yang disebabkan musim kemarau ini," tandasnya. (*)