Batanghari - Banyak yang tidak tahu, bagaimana dan apa yang dirasakan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Batanghari ketika sedang melaksanakan tugas di lapangan memadamkan api kebakaran hutan dan lahan, ketika sedang melakukan pencarian mayat korban tenggelam di sungai yang memakan waktu berjam-jam lamanya. Yang tahu kita, cuma mereka harus mampu memdamkan api maupun menemukan korban tenggelam tersebut secepatnya. Kadangkala, cemooh datang kepada mereka. Seperti telat datang ke lokasi lahan terbakar ataupun terlalu lama menemukan jasad korban yang tenggelam.
Padahal, mereka rela meninggalkan anak istri berhari-hari, demi menempuh suatu perjalanan dalam memadamkan karhutla. Di lokasi kebakaran yang jauh dalam hutan, dan medan yang sulit kadang-kadang terpaksa membatasi air minum untuk pelepas dahaga. Ketika lapar harus tahan menunggu nasi bungkus datang karena jauhnya jarak, serta tertidur beralaskan tanah karena penat. Yang pasti, demi tugas kemanusiaan tersebut, nyawapun menjadi taruhan.
Itulah TRC BPBD, yang pantang pulang sebelum tugas selesai, baik memadamkan api karhutla, maupun pencarian korban musibah tenggelam.
Itulah yang dirasakan TRC selama menjalankan tugas di lapangan, seperti yang diungkapkan Danton TRC Maryanto serta Dandru I, Bahroji kepada Halojambinews, Jumat(16/08/2018).
" Kami rela meninggalkan anak istri berhari-hari demi menjalankan tugas kemanusiaan ini, baik karhutla, banjir, maupun pencarian korban tenggelam. Itu sudah tanggungjawab kami. Kalau tugas kami selesai, kami tak ingin pujian. Kami pantang pulang sebelum tugas berhasil" ungkap Maryanto.
Menurut mereka, pada awalnya berdiri, tim oranye ini berjumlah 10 orang. Sekarang sudah berjumlah 46 personil. Di samping tim gerak cepat, juga ada 2 orang supir dan tukang kebersihan serta masak air minum. Namun apabila kekurangan personil di lapangan, supir dan personil kebersihan tersebut turut bergabung.
Ada hal menarik yang didapatkan Halojambinews tentang suka duka TRC ketika dalam pencarian korban tenggelam di Sungai Batanghari, dalam kondisi apapun jasad korban ketika ditemukan, mereka berprinsip bahwa jasad korban adalah Saudara kandung kita sendiri.
" Ketika jasad ditemukan, baik sudah tenggelam sehari maupun lebih, sudah barang tentu kondisi mayat tidak sempurna lagi. Namun di sini, di samping tugas yang harus dijalankan secara profesional, kami menyingkirkan rasa jijik maupun takut. Kami anggap mayat tersebut saudara kami sendiri yang kami urus dengan penuh kasih sayang" papar Bahroji.
Mereka mewakili TRC BPBD Batanghari, menghimbau kelada seluruh masyarakat Batanghari, apabila ada musibah karhutla maupun musibah orang tenggelam agar mengubungi call center BPBD Batanghari di 0743-23070. (Fri)