Jambi - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sultan Thaha Provinsi Jambi mencatat selama Januari hingga awal Juni 2020 terpantau sebanyak 196 titik hotspot atau panas di wilayah Provinsi Jambi.

Kepala BMKG Sultan Thaha Provinsi Jambi Ibnu Sulistyono mengatakan terbanyak terpantau potensi hotspot di wilayah Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) yaitu 96 titik. Sedangkan, terendah berada pada Kerinci 1 titik dan Kota Jambi 2 titik. 

"Untuk saat ini hotspot terpantau nihil di Provinsi Jambi," ujarnya, kepada Halo Jambi, Senin (8/6/2020).

Disampaikan Ibnu, BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi di Bulan Juli mendatang. Sebab, meski pada awal Juni (desarian I) ini untuk beberapa wilayah di Provinsi Jambi sudah memasuki musim kemarau, akan tetapi masih berpotensi akan terjadinya hujan dengan skala rendah hingga menengah dengan rata-rata 50 - 150 mm. 

Namun, di beberapa wilayah yang musim hujannya dibawah normal patut diwaspadai khususnya di wilayah-wilayah yang berpotensi terjadi hotspot seperti di Tanjabbar, Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) dan Muaro Jambi. 

Sementara upaya yang sudah dilakukan dengan menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sebagai pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan dan Jambi. "Seperti di seputaran Banyuasin, dan Muaro Jambi. Kegiatan sudah dimulai tanggal 2 Juni kemarin dan akan berakhir tanggal 20 Juni mendatang. Untuk di Jambi, TMC baru berlangsung di Muaro Jambi," jelasnya. 

Ibnu menambahkan untuk musim kemarau tahun ini tidak terlalu ekstrim seperti di tahun 2019 lalu. Pasalnya tahun ini ditengah musim kemarau masih ada potensi (peluang) curah hujan, sehingga masih terasa lebih sejuk. 

Ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk lebih peduli dan lebih aktif mengecek serta update akan informasi cuaca dari BMKG. "Tetap jaga kondisi wilayah sekitarnya, agar tidak terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan Karhutla di Jambi," harapnya. (uya)