Batanghari - Kalau kita mengunjungi Kelurahan Bajubang, tepatnya di kompleks Pertamina Bajubang, sebelum Lobang Jepang kita akan melihat sebuah rumah tua yang kondisinya masih kokoh dan ditempati. Rumah semi permanen tersebut, yang dibangun kira-kira pada 1930 tersebut, mempunyai kamar sebanyak 4 ruang, dua ruang tamu, kamar mandi yang besar dan dapur. Atap seng rumah tersebut masih kuat dan tidak ada rusak sekalipun.
Rumah tua tersebut merupakan rumah penduduk pertama di Bajubang yang dibangun seizin Nederlandsch Indische Aardolie Maatschappij atau NIAM yang merupakan cikal bakal Pertamina ini, dibangun oleh Rahman Naip, seorang rekaman NIAM berasal dari Kota Padang Sumatra Barat.
Rahman yang tinggal beserta istrinya Sabariah, rumahnya juga merupakan tempat menginapnya para pendatang yang akan bekerja di NIAM sebelum membuat rumah sendiri di sekitar kompleks.
Rahman kala itu sudah mempunyai sebuah mobil Austin, yang mana pada masa itu satu-satunya warga yang baru mempunyai mobil. Namun sayang, mobil tua tersebut sudah dijual oleh keluarganya sendiri. Barang-barang tua milik Rahman sendiri sekarang tertata rapi di dalam sebuah ruangan khusus rumah tua tersebut.
Setelah Rahman dan Sabariah tutup usia, rumah tersebut ditempati oleh anaknya Norman Naip beserta istrinya Sakinah, dan sekarang ini ditempati oleh saudara sepupu Norman, Siti Aisah.
Rumah beserta isi serta lingkungan sekitarnya yang asri ini, adalah merupakan saksi sejarah berkembangnya Kelurahan Bajubang dan sempat menjadi Kota Metropolis pada zaman itu serta suksesnya NIAM menjadi Pertamin selanjutnya Pertamina, yang kemudian pindah ke Kenali Asam Kota Jambi.(Fri)