Jambi - Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang (y-on-y) pada triwulan I tahun 2019 mengalami penurunan sebesar minus 24,56 persen dibandingkan triwulan I tahun 2018, sedangkan untuk pertumbuhan nasional naik sebesar 4,45 persen. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, Dadang Hardiwan mengatakan Penurunan produksi didominasi oleh pertumbuhan negatif Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia yang menurun sebesar minus 33,24 persen. Pertumbuhan Nasional yang mengalami peningkatan terbesar yaitu Industri Kimia dan Barang dari Bahan Kimia sebesar 7,77 persen. 

"Industri Kimia dan Barang dari Bahan Kimia Provinsi Jambi mengalami penurunan yang cukup besar dibandingkan triwulan I tahun 2018, yaitu sebesar minus 46,74 persen," ujarnya, Minggu (5/5/2019).

Dadang menjelaskan, Industri lain penyumbang Indeks Pertumbuhan Industri Besar Sedang yang juga mengalami pertumbuhan negatif adalah Industri karet dan bahan dari plastic sebesar minus 26,18 persen. Sedangkan Industri Makanan mengalami pertumbuhan positif sebesar 20,18 persen.

"Untuk Pertumbuhan Nasional, Industri karet dan bahan dari Karet juga mengalami pertumbuhan negatif, yaitu sebesar minus 9,88 persen. Sedangkan Industri Makanan juga searah dengan Pertumbuhan Industri Makanan Provinsi Jambi, yaitu sebesar 1,36 persen, "sebutnya. 

Adapaun pada triwulan I tahun 2019, ketiga industri yang mewakili pertumbuhan Indeks Industri Besar Sedang Provinsi Jambi mengalami pertumbuhan negatif yaitu Industri Kimia dan Barang dari Bahan Kimia mengalami penurunan produksi sebesar minus 33,24 persen, sedangkan angka pertumbuhan nasional mengalami pertumbuhan positif sebesar 2,01 persen.

"Menurunnya permintaan dari konsumen untuk bahan baku industri menjadi salah satu alasan turunnya produksi Industri ini," tuturnya.  

Sedangkan, Industri Karet dan Bahan dari Plastik mengalami pertumbuhan negatif sebesar minus 18,29 persen. Sedangkan pertumbuhan Industri Karet dan Bahan dari Plastik di level Nasional juga mengalami pertumbuhan negatif sebesar minus 6,62 persen. Menurunnya produksi karet Jambi karena harga yang belum membaik, sehingga mengakibatkan petani beralih ke tanaman yang lebih  cepat berproduksi seperti palawija atau hortikultura. Selain itu banyaknya pohon karet yang berusia tua sehingga produktivitas semakin menurun. Rencana replanting tanaman karet juga terkendala oleh biaya dan lahan. 

Untuk, Industri Makanan juga mengalami pertumbuhan negatif sebesar minus 20,41 persen, begitu juga angka pertumbuhan nasional menurun sebesar minus 5,42 persen. Jenis industri ini didominasi oleh industri minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) dan juga industri minyak mentah dari kelapa. 

"Permintaan akan produk CPO sebenarnya stabil, namun kualitas kelapa sawit yang dihasilkan berkurang diakibatkan kebanyakan tanaman sawit yang sudah mencapai 20an tahun, ditambah lagi cuacanya yang tidak menentu," tandasnya. (uya)