Kerinci - Teh Kayu Aro merupakan teh yang diambil dari pucuk teh pilihan, menghasilkan teh berwarna orange bening dengan rasa kental di lidah dan bertahan lama yang dihasilkan oleh dataran tinggi Kayu Aro, Kerinci - Jambi, Sumatera- Indonesia.
Perusahan Teh Kayu Aro dibuka oleh perusahaan Belanda dengan nama Namblodse Venotschaaf Handle Vereniging Amsterdan (NV HVA) tahun 1925, merupakan perkebunan teh terluas di dunia setelah perkebunan teh Darjeling di kaki gunung Himalaya, dengan luas 3.014,60 hektar. Dimana, saat ini pengawasan perusahaan teh ini dibawah PT Perkebunan Nusantara VI (PTPN VI), mulai dari perawatan dan pemeliharaan tanaman, pemetikan pucuk teh, pengolahan di pabrik, pengemasan hingga pengiriman.
Dalam kegiatan Media Gathering ini, Forum Jurnalis Migas (FJM) Jambi bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) berkesempatan untuk melihat langsung hamparan kebun teh kayu aro dan melihat pabrik yang dibangun sejak zaman Belanda dahulu yang didampingi langsung oleh Heri Kurniawan, selaku Asisten Kepala Unit Usaha Teh Kayu Aro PTPN VI. Kamis (10/10/2019).
Heri Kurniawan mengatakan dalam proses pemetikan pucuk teh tidak seluruhnya menggunakan cara tradisional, melainkan lebih banyak menggunakan teknologi. Hal tersebut dikarenakan, para pekerja sudah banyak memasuki masa pensiun dan hanya tersisa sekitar 200 orang.
"Untuk pemetikan teh pucuk pilihan kita dominan cara modern dengan menggunakan mesin sekitar 80 persen dan tradisional 20 persen. Kebun teh di Kayu Aro inikan merupakan peninggalan dari Belanda. Jadi remaja-remaja sekarang ini sudah agak gengsi untuk memetik teh karena dianggap buruh,” ujarnya.
Dijelaskannya, terdapat dua cara pengelohan teh kayu aro setelah dipetik, yaitu pertama dengan cara CTC (Pelayuan, pemotongan dan pencabikan) menggunakan mesin secara otomatis dan yang kedua secara Ortodok(Manual). Produksi teh kayu aro sendiri, mencapai 80 ton perhari, namun akibat cuaca memburuk beberapa waktu belakangan ini membuat produksi teh kayu aro berkurang hanya 40 ton perharinya.
Mengenai kualitas teh yang dinikmati masyarakat di Provinsi Jambi sendiri, diakui Heri, sama seperti yang dinikmati oleh Ratu Elizabeth di Inggris yaitu dengan cara mengkombinasikan teh kualitas grade 1, 2 dan 3.
"Ingat teh kayu aro tidak ada yang namanya hanya kualitas grade 1 yang di ekspor keluar negeri dan grade 3 yang dijual didalam negeri. Semuanya bisa di ekspor sesuai dengan permintaan konsumen. Sedangkan untuk mendapatkan teh kayu aro kualitas grade 1 hanya bisa melalui tahap lelang dan semua masyarakat Indonesia bisa mengikutinya, "tuturnya.
Heri menambahkan luas area lahan yang ditanami saat ini sebanyak 2.624,69 hektar dan yang belum ditanami seluas 389,91 hektar. Sedangkan, untuk area lahan yang ditanami kebun teh seluas 1.973,69 hektar dan 500 hektar.
Sementara itu, Ketua FJM Provinsi Jambi, Mursid Songsang mengatakan yang ikut media Gathering ini sekitar 75 orang, semuanya dari wartawan Internasional.
“Kenapa saya bilang Wartawan Internasional karena beritanya sudah bisa dibaca dimana-mana, tidak ada lagi konotasi media Regional, Nasional lagi, semua media Internasional,” katanya
Selain itu, kenapa media Gathering dilaksanakan di Kerinci karena FJM Jambi telah berdiri dari tahun 2014 lalu dan Media Gathering sudah sering keluar Jambi.
“Tahun ini ke Kerinci, semoga semuanya dapat mengekspos teh Kayu Aro ini,” tutupnya. (uya)