Batanghari - Warung kopi yang terletak di Jalan Gajah Mada Muara Bulian, tepatnya di samping Kantor Kimpraswil Batanghari ini, sejak 1983 nan lalu, cita rasa minuman seperti kopi, teh, dan sarapan pagi seperti lontong, nasi goreng, mie rebus, roti kukus, roti bakar dan roti goreng, cita rasanya tak pernah berubah, termasuk pelayanan terhadap tamu yang datang. 

Warung yang buka sampai siang hari ini, sejak dulu sampai sekarang, selalu disinggahi tokoh-rokoh penting untuk sarapan sekaligus tempat pertemuan kecil. Mulai dari mantan bupati pertama Kabupaten Batanghari Raden Suhur, mantan Gubernur Jambi HBA, Almarhum H. Abdul Fattah, Yazirman, Burhanuddin Mahir, maupun tokoh-tokoh penting serta aktifis dan politikus serta pengusaha kondang lainnya. 

Warung yang sejuk dan asri karena berada di bawah Batang Mbacang ini, disebut orang Warung Amuk. Siapakah Amuk yang legendaris tersebut? 

Menurut Akuang (45) serta Aling (54), Amuk adalah merupakan panggilan dari ayahnya yang bernama Mukhtar Rahman, yang membuka warung ini. 

" Amuk adalah panggilan papa saya almarhum. Cita rasa makanan maupun minuman sejak dulu sampai sekarang, tidak berubah. Itulah resep yang diturunkan oleh Amuk kepada kami, termasuk pelayanan kepada tamu yang datang, harua ramah dan banyak senyum" kata Akuang. 

Pada awalnya, lanjut Akuang, Amuk dan istrinya Aminah, yang kerap dipanggil Amei, datang dari Bangka ke Muara Bulian tahun 1955. Buka warung sarapan pertama di Rangkayo Hitam, kemudian pindah ke dekat galian pasir (Mulia Teknik sekarang-red), sampai akhirnya buka di sini sampai sekarang. 

" Amuk meninggal tahun 2013 lalu dalam usia 81 tahun. Ameipun sekarang sudah tua dan harus banyak istirahat. Oleh karena itu, kami yang melanjutkan pekerjaan melayani pesanan dari tamu-tamu yang datang" ungkap Akuang. 

Di samping itu, Aling menambahkan bahwa bagi tamu yang menderita diabetes, dirinya dan Akuang, akan membuat kopi maupun minuman lainnya memakai gula jagung. 

" Kopi, teh, maupun minuman lainnya bagi penderita diabetes, kami sudah menyediakan gula jagung untu rasa manisnya. Jadi nggak usah lagi dibawa dari rumah" ujar Aling tersenyum. 

Memang, Warung Amuk ini selalu menjadi tempat santainya banyak lapisan sekaligus sarapan serta minum. Bangunan warung sampai sekarang, tetap sama dari dulu. Yang berubah, cuma meja dan kursinya. Kalau dulu, meja tempat makan dan minum tamu, berbentuk empat persegi panjang. Tempat duduknya juga bangku panjang. Namun sekarang, mejanya kecil, ada yang petak dan bulat serta kursinya dari plastik.

Cita rasa dari dulu tetap menggugah selera. Seperti mie rebus bawang yang membangkitkan aroma khas. (Fri)